Lah, masa memaki aja pake etika!?
Sebenarnya pada tulisan abstrak ini, Catatan Imanuel Sihite melalui adminya yang rupawan ini hanya akan memfokuskan level advance dari sistem pencacimakian, yaitu: nyumpahin.
Ibarat monas, nyumpahin adalah kulminasi atau titik tertinggi dari monumen amarah seorang manusia.
Ada banyak efek samping yang kurang bagus yang mungkin ditimbulkan dari aktivitas nyumpahin ini.
(Perlu diingat bahwa Catatan Imanuel Sihite melalui adminya yang bijak ini tidak akan mencampur unsur-unsur agamawis kedalam artikel yang sarat kebejatan ini, karena sesuai kodratnya, gelap dan terang tidak bisa bersatu).
Di negara yang sudah tidak mengenal kemiskinan melainkan kemelaratan ini sebenarnya cukup banyak ditemui cerita rakyat yang berkaitan dengan aktivitas nyumpahin.
Yang paling terkenal adalah cerita rakyat dari Subang, Jawa Barat. Cerita berjudul Twilight Saga: Breaking Dawn ini bercerita tentang perjalanan seorang pemuda rantau melarat yang sukses menjadi batu setelah sempat mengecap bangku kuliahan dan menjadi orang kaya. Pemuda bernama Malin Kundang itu tentu sudah sama-sama kita ketahui sepak terjang kehidupanya. Baik melalui film atau buku cerita kuno.
Dari cerita dan pengalaman pahit pemuda berburung kecil tersebut, kita bisa merengkuh nikmatnya sirup Marjan. Eh?
Ehm, ehm. Maksud admin, nilai-nilai positif.
Lalu bagaimana dan sejauh mana penerapan nilai-nilai tersebut didalam kehidupan masyarakat negara ini?
Sebagai penduduk di negara terbesar pertama di dunia (dalam kasus korupsi -red), kita pasti sering bertemu rekan-rekan sebangsa tanah dan sebangsa air yang berasal dari berbagai macam suku di kolong langit Nusantara ini.
Mereka semua memiliki beragam sifat, kepribadian, dan lain sebagainya.
Tapi, kebanyakan diantara mereka (termasuk anda tentu saja) sudah banyak yang melupakan dan kelupaan nilai-nilai kearifan lokal
Padahal nilai-nilai kearifan lokal adalah tembok penghadang bobroknya mental para bangsat di bangsa ini. *muka serius*
Contoh-contoh bangsat dapat kita jumpai di sekitar kita.
Para bangsat ini memiliki level kebangsatan yang berbeda antara satu dengan yang lain.
Jika kita memfokuskan pokok pembicaraan kepada kegiatan sumpah menyumpah, maka kita dapat menjumpai sosok yang sebenarnya tidak pantas menjadi objek dalam kegiatan ini. Orang tua.
Selama ratusan dekade berjuta-juta pasangan orangtua acapkali menjadi objek atau sasaran luapan emosi dari bocah asuhanya.
Mengapa hal ini dapat terjadi?
Tentu saja karena kurangnya nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalam empedu dan hati sang bocah ingusan.
Ketiadaan nilai-nilai kearifan lokal ini dapat juga ditimbulkan dari impotenya brung sang ayah dalam menurunkan nilai-nili kearifan lokal yang ia dapatkan. (atau bahkan tidak punya).
Kelanjutanya dapat ditebak, anak-anak dari sang bocah kelak juga akan berperilaku layaknya kucing garong yang gemar memperkosa dan diperkosa di atas genteng.
Sungguh ironis, ketiadaan file kearifan lokal dalam memory internal sang ayah menyebabkan ia tidak mampu (impoten) menularkanya kepada anaknya.
Akibat dari semuanya ini (semua hal diatas -red) adalah munculnya generasi-generasi penerus bermental bangsat yang gemar nyerapahin siapapun dimanapun.
Terkadang Catatan Imanuel Sihite melalui adminya yang ramah ini berpikir untuk menambahkan beberapa pembahasan lain mengenai hal dimaksud tersebut, tapi apa daya admin sedang dalam tahap pemulihan keseimbangan mental karena dimarahin tadi pagi.
Kita -setelah membaca tulisan diatas- seharusnya yakin dan percaya (setidaknya mengiyakan) bahwa nilai-nilai kearifan lokal yang didapat dari warisan luhur nenek moyang berupa adat dan kebudayaan seharusnya tetap dilestarikan.
Kita harus menjaga nilai-nilai kearifan lokal agar dikemudian hari, ketika para alien dari Mars datang menyerang, mereka menemukan fosil manusia purba berjabat tangan di seluruh tanah air kita ini.
Ah, sudahlah.
Pokoknya inti dari tulisan ngawur bin ngalur ngidul gak jelas ngambang entah kemana ini adalah.
Jangan nyumpahin orang. Titik.
Dah gitu aja. Cukup tau aja.
:x
ReplyDelete